The History of Indonesian Slang or Bahasa Gaul

Share

Indonesian slang or bahasa gaul is often used amongst the youngsters in Indonesia. The slang language keeps evolving over time and there are more words added every day. In this article, we are going to explore some popular slang words that are gaining popularity nowadays.

This article is written by our guest writer, Mr. Hidayat Widiyanto. He is one of the young researchers in Indonesian Language Centre under the Ministry of Education, Republic of Indonesia. Besides teaching Indonesian language, he has written and presented various papers in both Indonesia and overseas.

We hope you enjoy and understand the article that he has prepared exclusively for LIA readers.

Istilah-Gaul-Zaman-Sekarang

IDIH …, GA GUE BINGITS, DEH!

“Coba, lo ambil yang itu!”

“Yang mane?”

“Ya, yang itu, yang ungu.”

“Idih …, ga gue bingits, dech, emang gue jande, cin?”

Pembaca yang budiman, itulah sepenggal dialog atau ujaran yang jamak bisa didengar dari para remaja di Jakarta. Dialog atau ujaran itu bisa terjadi ketika sepasang muda-mudi memilih pakaian di pusat perbelanjaan. Inti pembicaraannya adalah ujaran idih, ga gue bingits, dech, emang gue jande, cin?” yang kira-kira bermakna ‘itu bukan selera saya, saya bukan orang tua’. Kalangan muda itu terlihat sangat nyaman dan lancar mengungkapkan pikiran dan ide mereka melalui komunikasi bahasa Indonesia yang segar, elastis, enak didengar, dan mereka merasa cute. Demikian juga, mereka menganggap bahwa bahasa yang mereka gunakan tidak kampungan, modern, dan up to date. Ragam bahasa yang dipilih mewakili ragam bahasa yang mewakili kaum muda. Mereka akan merasa nyaman jika menggunakan ragam bahasa itu kepada teman akrab. Masyarakat Indonesia banyak menyebut ragam bahasa itu dengan  ragam bahasa gaul, bahasa alay, atau bahasa abg.

Bahasa gaul adalah ragam bahasa Indonesia nonstandar yang jamak digunakan di Jakarta pada tahun 1980-an sampai saat ini menggantikan bahasa prokem yang lebih lazim digunakan pada dekade sebelumnya. Dalam perkembangannya, fenomena penggunaan ragam bahasa itu tidak saja terjadi di Jakarta, tetapi juga melanda kota-kota besar lainnya di Indonesia.  Jakarta sebagai parameter kehidupan anak muda di Indonesia mempunyai pengaruh yang sangat kuat. Mungkin penggunaan bahasa ragam nonstandar ini juga digunakan di luar Indonesia. Hal itu tidak hanya digunakan dalam komunikasi lisan, tetapi juga digunakan dalam komunikasi tulis khusunya di layanan pesan pendek, media sosial, atau komunitas pengguna layanan tertentu, seperti  digunakan di facebook, tweeter, instagram,  kaskus, atau media lainnya.

Pembaca yang baik, dalam komunitas pengguna kaskus, Pembaca  tidak akan asing dengan istilah gan atau agan sebagai pengganti kata Anda yang diambil dari kata juragan [sebutan orang upahan terhadap majikan/bos/atasan]. Mungkin juga Pembaca juga sering menggunaka lol untuk menggambarkan tertawa terbahak-bahak yang diambil dari singkatan lough of loud. Apakah ini fenomena baru? Tentu itu bukan fenomena baru. Fenomena itu selalu ada dalam setiap zaman. Fenomena ini selalu berkembang, akan muncul kosakata, ujaran, atau istilah baru untuk komunitas tertentu pada zaman tertentu. Pembaca tentu pernah mendengar kamus/buku bahasa slang dari Debi Sahertian pada era 90-an. Pembaca juga pernah mendengar penggunaan bahasa walikan yang digunakan masyarakat  Malang, Jawa Timur. Itu semua merupakan perkembangan bahasa yang digunakan oleh masyarakat atau kelompok masyarakat tertentu dengan berbagai tujuan. Perlu diingat bahwa penggunaan bahasa itu sangat kontekstual dan temporal.

Lantas, menurut Pembaca, apakah ini akan merusak bahasa? Fenomena perkembangan  bahasa adalah hal yang wajar dan alamiah. Hal itu dialami oleh semua bahasa yang berkembang di dunia ini, termasuk sebenarnya bahasa dalam ranah hukum yang kadang-kadang orang menilainya sebagai bahasa yang mati dan kaku. Perkembangan bahasa yang dikreasikan oleh kelompok atau sebagian masyarakat tertentu merupakan sebuah pembaharuan. Masyarakatlah yang akan menyeleksinya. Apakah diterima atau ditolak. Yang akan menjadi masalah jika anak-anak muda itu tidak dapat membedakan penggunaan bahasa itu dalam ranah formal dan informal. Penggunaan ragam bahasa seperti itu tidak akan “menggangu” bahasa Indonesia. Bahkan, bisa “membantu”  jika memang anak-anak muda itu menggunakan ragam bahasa itu sebagai alat komunikasi dalam ranah informal. Yang akan menjadi masalah adalah jika anak-anak muda itu menggunakan ragam bahasa itu ke dalam ranah formal, termasuk dalam ranah akademik.

Untuk pengajaran bahasa Indonesia sebagai bahasa asing, apakah ragam bahasa itu perlu dikenalkan atau diajarkan secara khusus kepada pemelajar? Tentu pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan bergantung kepentingan dan kebutuhannya. Biasanya, ragam bahasa itu digunakan oleh remaja-remaja pemelajar bahasa Indonesia yang sudah memiki kompetensi berbahasa yang cukup dan memadai. Jika pemelajar bahasa itu belajar di Indonesia, ragam itu akan didapatkannya di lapangan. Para pemelajar tentu akan mendapatkan itu melalui kontak dengan anak muda Indonesia lainnya. Untuk kepentingan pengajaran bahasa resmi atau formal, yang perlu diperhatikan tentu pengajaran ragam bahasa formal diberikan lebih awal dan ragam bahasa informal diberikan pada tahap berikutnya. Pengalaman mengatakan bahwa jika menerima ragam bahasa informal lebih awal, pemelajar akan mendapatkan kesulitan dalam berbahasa secara formal, mengingat pertama, pemelajar harus memproduksi bahasa dan tahap berikutnya, pemelajar dipaksa “membetulkannya”, padahal mereka harus memproduksi bahasa itu untuk kepentingan ragam formal. Hal itu tidak akan berlaku jika kebutuhan pemelajar berada pada penggunaan bahasa informal. Masih bisa dikatakan berterima jika pemelajar menggunakan bahasa ragam formal dalam lingkungan informal dibandingkan dengan pemelajar menggunakan ragam bahasa informal dalam situasi formal. Itu bisa menyebabkan gegar budaya.

Pembaca yang cakap, jika Pembaca sebagai orang asing yang belajar bahasa Indonesia sudah dapat menggunakan kedua ragam bahasa tersebut sesuai dengan konteksnya berarti Pembaca sudah memiliki kemampuan yang cukup dan mumpuni dalam berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. Mau mencoba? Cucok itu! (hi)

 

Contoh  kata dan istilah ragam bahasa informal

bingits  : pengganti kata banget

cin          : kependekan dari cinta, sapaan untuk teman dekat

pewe     : akronim posisi wuenak, nyaman

jutek     : sombong

kepo      : selalu ingin tahu

LDR       : long distance relationship, berpacaran jarak jauh

tulalit    : lama merespons

ciyus     : serius

masbro : akronim mas dan brother, sapaan untuk teman laki-laki

bohay   : body aduhay, seksi